
Malang –
Tujuh pendaki sombong yang naik Gunung Semeru secara ilegal akhirnya terbongkar. Mereka diberi sanksi dilarang mendaki Gunung Semeru sampai 5 tahun ke depan.
Identitas 7 pendaki ilegal itu terungkap dari penyelidikan Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (BB TNBTS) setelah video pendaki ilegal itu menyebar ke media sosial.
Penyelidikan berawal dari unggahan akun Instagram @jejak.pendaki pada Januari 2025. Usaha itu berbuah hasil, satu per satu identitas pendaki terungkap.
Kepala Bagian Tata Usaha (Kabag TU) Septi Eka Wardhani menyatakan pihaknya langsung menelusuri jejak digital usai unggahan video pendaki ilegal itu viral.
“Kami menelusuri siapa pendaki tersebut dan kami hubungi ke nomor telponnya serta kami berikan surat panggilan untuk melakukan klarifikasi ke kantor TNBTS,” kata Septi kepada wartawan, Rabu (26/2/2025).
Dari sana akhirnya diketahui identitas 7 pendaki ilegal itu yakni Setiabudi dari Yogyakarta, Imam Tantowi dari Pasuruan, Triono dari Klaten, Joko Suprianto dari Boyolali, Titis Purnasaputra dari Sukoharjo, Suroto dari Karanganyar, dan Muhammad Agip dari Solo.
Sementara dari keterangan para pendaki diketahui bahwa mereka masuk melalui jalur pendakian ilegal dari Ampelgading, Kabupaten Malang pada 17 sampai 18 Januari 2025 lalu.
“Pada 3 Februari 2025 kami kirimkan surat panggilan kepada para pelaku untuk dilakukan klarifikasi. Mereka baru memenuhi panggilan pertama pada 17 Febuari dan 25 Febuari kemarin. Mereka mengakui bahwa telah melakukan pendakian di jalur ilegal,” tuturnya.
Salah satu pendaki Muhammad Agip akhirnya menyampaikan permintaan maaf kepada pihak pengelola taman nasional dan masyarakat luas.
Termasuk menerima konsekuensi hukum atau sanksi yang diberikan kepada ketujuh pendaki ilegal dari berbagai daerah di Indonesia ini.
“Kami memohon maaf kepada seluruh pihak yang dirugikan atas kegaduhan yang telah ditimbulkan, kami siap menerima konsekuensi hukum sesuai dengan peraturan yang berlaku,” kata Agip dalam video klarifikasi yang diunggah di media sosial.
——–
Artikel ini telah naik di detikJatim.
(wsw/wsw)