
Jakarta –
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengancam akan menjatuhkan bom di Iran jika negara itu tidak bisa mencapai kesepakatan soal program pengembangan nuklir.
“Jika mereka tidak membuat kesepakatan, akan ada bom,” kata Trump dalam sebuah wawancara, dikutip dari Reuters, Senin (31/3/2025).
“Itu akan menjadi bom yang belum pernah mereka lihat sebelumnya,” tegas Trump lagi.
Selain bom, Trump juga mengancam akan mengenakan tarif sekunder kepada Iran jika kesepakatan pengembangan nuklir tersebut tak kunjung terlaksana. Namun ia tidak merinci lebih jauh besaran tarif atau kapan akan diberlakukan.
“Ada kemungkinan bahwa jika mereka tidak membuat kesepakatan, saya akan mengenakan tarif sekunder kepada mereka seperti yang saya lakukan empat tahun lalu,” tambahnya.
Trump menjelaskan tarif masuk sekunder ini akan dikenakan kepada negara yang melakukan perdagangan dengan negara yang akan dijatuhi sanksi, seperti Iran dan Rusia.
Tarif sekunder ini sudah diterapkan ke Venezuela. Alhasil, setiap negara yang melakukan dengan negara tersebut akan dikenakan tarif masuk tambahan saat melakukan ekspor ke AS.
“Kami mungkin akan memberinya waktu beberapa minggu dan jika kami tidak melihat kemajuan apa pun, kami akan memberlakukannya. Kami tidak memberlakukan sekarang. Tetapi jika Anda ingat, saya melakukannya enam tahun lalu, dan itu berhasil dengan sangat baik,” kata Trump.
Di sisi lain, pemerintah Iran mengatakan jika pihaknya memang memiliki kebijakan untuk tidak melakukan negosiasi langsung dengan AS. Sebab negara di Timur Tengah itu selalu diintimidasi hingga ditekan secara militer.
“Negosiasi langsung (dengan AS) telah ditolak, tetapi Iran selalu terlibat dalam negosiasi tidak langsung, dan sekarang juga, Pemimpin Tertinggi telah menekankan bahwa negosiasi tidak langsung masih dapat dilanjutkan,” kata Presiden Iran Masoud Pezeshkian.
(igo/hns)