
Jakarta –
Minal aidin wal faizin bukan sekadar ucapan formalitas. Ada kisah epik tentang kemenangan perang dan syair indah yang melatarbelakanginya. Simak asal-usulnya yang jarang diketahui.
Kalimat minal aidin wal faidzin bakal sering beredar melalui pesan Whatsapps, konten di media sosial, atau pun diucapkan saat perayaan Haro Raya Idulfitri yang jatuh pada Minggu (31/3/2025). Kalimat itu biasanya bakal disertai ucapan permohonan maaf lahir dan batin.
Ternyata, minal aidin wal faidzin berarti termasuk orang-orang yang kembali ke [fitrah] dan meraih kemenangan.
Dikutip dari sejumlah sumber, kalimat itu pertama kali diucapkan oleh masyarakat Madinah. Kalimat tersebut muncul usai sebuah peristiwa besar terjadi.
Peristiwa yang menjadi asal-usul salam minal aidin wal faidzin tersebut berkaitan dengan kemenangan umat Islam dalam sebuah peperangan, di mana mereka kembali dalam keadaan selamat dan berjaya.
Sejak saat itu, ungkapan minal aidin wal faidzin pun sering diucapkan. Ungkapan itu digunakan sebagai doa dan harapan baik saat Idulfitri.
Seiring waktu, kalimat ini semakin populer di banyak negara dengan mayoritas Muslim, termasuk Indonesia. Padahal, ungkapan tersebut sebenarnya bukan bagian dari salam resmi bahasa Arab.
Ungkapan ini memiliki sejarah panjang yang berkaitan dengan Perang Badar. Dalam catatan berbagai sumber, Idulfitri kali pertama dirayakan pada tahun 634 Masehi atau tahun ke-2 Hijriah yang bertepatan dengan berakhirnya Perang Badar.
Meski umat Muslim harus melawan jumlah pasukan Quraisy yang jumlahnya tak terhitung, kemenangan tetap didapat berkat pertolongan dan perlindungan Allah SWT.
Kemenangan ini dirayakan sebagai bentuk syukur kepada Allah SWT. Dari peristiwa ini lah, muncul ungkapan ‘minal aidin wal faidzin’.
Perang Badar sendiri merupakan salah satu peristiwa besar dalam perkembangan Islam yang berlangsung di bulan Ramadan.
Tapi, ada juga sumber lain yang menyebutkan bahwa ungkapan ‘minal aidin wal faidzin’ berasal dari syair karya Syafiyuddin Al-Huli yang berkembang pada masa Al-Andalus.
Syair tersebut menggambarkan kegembiraan dan doa bagi sesama agar termasuk ke dala golongan orang-orang yang kembali dalam keadaan suci. Ucapan itu kemudian berkembang dan digunakan dalam banyak tradisi Idulfitri.
(fem/fem)