
Jakarta –
Nama Tara Zulfikar mungkin belum familier di industri film Indonesia. Tara memulai kariernya di industri perfilman New York, Amerika Serikat.
Perempuan asal Indonesia itu menuliskan data singkat dirinya dalam website pribadinya, tarazulfikar.com. Dia adalah lulusan dari Tisch School of the Arts, New York University dan meraih gelar Bachelor’s degree Cinematography and Film/Video Production. Tara Zulfikar menyebut perjalanannya masih sangat awal untuk mengarungi industri perfilman.
Dalam website tersebut, Tara memperlihatkan film dan fotografi yang menjadi karya-karyanya. Pengalaman sebagai sutradara, sinematografer, dan produser membuat Tara merasa semangat.
“Meniti karier di dunia perfilman New York, Amerika, penuh rasa syukur atas kesempatan yang datang,” ungkap Tara Zulfikar dalam keterangannya, Rabu (26/3/2025).
Salah satu karyanya yang mencuri perhatian adalah video musik Runaway musisi Izzy Ravana dan mTwenty. Tara menyutradarai video musik itu pada Desember 2022 dan kini sudah ditonton lebih dari 2.000 kali di Youtube dan puluhan ribu kali di Instagram.
Runaway mendapat apresiasi di beberapa festival. Runaway menjadi nominasi juri di National Film Festival for Talented Youth (NFFTY) 2023 serta penghargaan Best Music Video di Independent Shorts Awards dan Fusion Film Festival. Runaway juga masuk daftar Music Video Releases You Need To Check Out oleh @loadingunderground.
“Proyek ini menjadi salah satu pengalaman yang membuka mata tentang dunia industri kreatif di luar Indonesia,” menurut Tara Zulfikar.
Tara juga terlibat sebagai Director of Photography untuk Skin Bodies, sebuah film pendek eksperimental yang disutradarai oleh seorang creator muda Amerika, Ilina Bhatia dan dikembangkan oleh Edith Saldanha, seorang penari, seniman, dan aktris dari Jerman.
Skin Bodies adalah bagian pertama dari triptych performatif yang mengeksplorasi kekerasan struktural dan pengaruhnya terhadap tubuh. Proyek ini didukung oleh Goethe-Institut München, Kulturfonds Stadt München dan Stadt Salzburg.
Pemilk akun Instagram @tara_zulfikar dan tim menunggu jadwal pemutaran di galeri-galeri Jerman, Belgia, dan New York City. Pendekatan visual yang intim dan eksperimental, Tara mengaku belajar banyak tentang bagaimana sinematografi bisa menjadi alat ekspresi yang kuat.
Tara Zulfikar juga terus mencari pengalaman baru. Proyek lainnya adalah Dinner With My Dead Son pada 2024. Ini adalah sebuah film pendek karya Ilina Bhatia dan memenangkan kategori Best Experimental Film di Absurd Film Festival, Italia, serta masuk dalam seleksi resmi HollyShorts Film Festival.
Tara terlibat sebagai Unit Production Manager dalam film Double Happiness yang diproduksi oleh Rollin Studios, yang disutradarai oleh aktris Amerika, Shari Albert yang dikenal melalui The Brothers McMullen. Proyek ini juga melibatkan sinematografer Adam Kolodny, yang menggarap The Featherweight pada 2024.
Dari Jakarta ke New York, perjalanan Tara masih panjang. Dia terus membangun koneksi, mencari proyek baru, dan memahami dinamika industri film di luar negeri adalah proses belajar. Dia berusaha jeli melihat kesempatan.
“Yang terpenting adalah tetap berkarya, berkembang, dan membawa perspektif uniknya sebagai seorang sineas muda Indonesia di panggung global,” harapan Tara Zulfikar.
(pus/nu2)