
Jakarta –
Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) punya siasat agar layanan Broadband Wireless Access (BWA) bisa beroperasi kembali tidak mengulangi kegagalan ketika era Bolt Cs.
Eksistensi layanan BWA ini pernah terjadi di Indonesia, tepatnya sebelum sinyal 4G berkembang pesat seperti sekarang. Itu ditandai dengan keberadaan First Media, Internux dengan produk Bolt, Indosat Mega Media (IM2), Berca, hingga Jasnita.
Operator BWA ketika itu menggunakan pita frekuensi 2,3 GHz, sedangkan nantinya Komdigi akan mengalokasikan di pita frekuensi 1,4 GHz. Lebar pita 80 MHz akan diberikan pemerintah untuk pemenang penyelenggara jaringan di seleksi frekuensi 1,4 GHz.
Koordinator Kebijakan Penyelenggaraan Infrastruktur Digital Komdigi, Benny Elian, mengungkapkan bisnis BWA dulu belum memiliki standar yang tetap, di mana tiap vendor menggunakan standar masing-masing sehingga tidak terhubung.
“Nah, sekarang kita belajar dari situ, kita tidak buat standar sendiri, standar IMT (International Mobile Communication) bahwa nanti kalau ada yang join tinggal pakai standar global. Jadi, tidak mengulangi isu perbedaan dulu,” ujar Benny di forum Morning Tech bertajuk “Lelang Frekuensi, Untuk Siapa?” di Jakarta, Senin (24/2/2025).
Komdigi mengungkapkan pemanfaatan 1,4 GHz memiliki potensi sebagai solusi untuk meningkatkan penetrasi fixed broadband dengan menyediakan kecepatan hingga 100 Mbps. Meski internet semakin kencang, Komdigi mengatakan bahwa koneksi tersebut dapat dinikmati di kisaran harga Rp 100 ribu sampai Rp 150 ribu per bulannya.
Rencana kebijakan untuk internet murah ini akan fokus pada wilayah dengan tingkat penetrasi layanan internet yang masih terbatas atau bahkan yang belum ada penetrasi sama sekali. Adapun pelanggan dari layanan internet murah ini ditujukan bagi masyarakat kelas menengah ke bawah dengan daya beli terbatas.
“Layanan BWA diposisikan sebagai komplemen terhadap layanan fixed broadband berbasis fiber optik, di mana diwajibkan menggunakan middle mile berbasis fiber optik. Seiring dengan pertumbuhan demand secara alami, pelanggan akan tergerak untuk beralih ke layanan fixed broadband berbasis fiber optik,” jelasnya.
Menurut Komdigi bahwa BWA menawarkan penggelaran yang lebih mudah dan cepat dengan biaya relatif rendah dibandingkan fiber optik. Hal ini yang diandalkan Komdigi sebagai upaya akselerasi peningkatan layanan fixed broadband di Indonesia dengan harga layanan yang relatif terjangkau namun koneksinya kencang.
Hingga saat ini, terdapat tujuh perusahaan yang menunjukkan minat terhadap frekuensi tersebut. Namun, Benny menyebutkan bahwa jumlah peserta dapat bertambah saat proses lelang resmi dibuka pada semester pertama tahun ini.
(agt/agt)