
Pesawaran –
Pihak pasangan calon Bupati Pesawaran, Nanda Indira dan Antonius Muhammad Ali meminta masyarakat untuk tetap tenang usai pendiskualifikasi terhadap Aries Sandi oleh Mahkamah Konstitusi (MK). MK menilai keabsahan surat keterangan pendamping ijazah (SKPI) Aries Sandi tidak sah.
Ketua Relawan paslon Nanda-Anton, Randi Septian mengatakan keputusan MK sudah sesuai dengan materi gugatan yang akhirnya dikabulkan.
“Ini sudah sesuai dengan apa yang digugat, karena kita meyakini paslon satu atas nama Aries Sandi Darma Putra tidak memiliki ijazah. Nah, dengan adanya putusan ini dari awal kita sudah komitmen, kita akan patuhi itu,” katanya.
“Kepada semua pihak untuk menghormati keputusan ini dan menjaga keamanan Kabupaten Pesawaran, karena sejatinya pilkada ini buat kebaikan Kabupaten Pesawaran. Jadi, apapun hasilnya dari MK kita terima lapang dada,” sambungnya.
Randi menyebut pihaknya akan berkoordinasi dengan partai politik pengusung guna menghadapi Pemungutan Suara Ulang (PSU) ke depan.
“Kita akan berkoordinasi dengan parpol pengusung karena dalam putusan tadi sudah jelas membatalkan hasil dari Pilkada Pesawaran dan memberikan ruang kepada parpol pengusung nomor urut 1 untuk menjaring lagi. Jadi kita tunggu kita akan berjuang terus karena ini semua untuk masyarakat Pesawaran,” imbuhnya.
Sebelumnya, MK memerintahkan KPU untuk menggelar pemungutan suara ulang (PSU) Pilbup Pesawaran. PSU tersebut diikuti oleh pasangan Nanda Indira dan Antonius Muhammad Ali, serta pasangan calon baru yang diajukan oleh partai politik atau gabungan partai politik yang sebelumnya mengusung Aries Sandi.
“Memerintahkan pemungutan suara ulang dimaksud harus sudah selesai diselenggarakan dalam tenggang waktu 90 (sembilan puluh) hari sejak dibacakan,” kata Suhartoyo.
Dalam pertimbangannya, MK tidak dapat meyakini kebenaran dari pengakuan Aries Sandi mengenai telah menyelesaikan pendidikan SMA. MK menemukan fakta jika Aries Sandi hanya pernah menempuh pendidikan kelas 1 dan 2 di SMA Arjuna Bandar Lampung.
“Pengakuan Pihak Terkait bahwa Aries Sandi Darma Putra melanjutkan pendidikan Kelas 3 ke SMA di Jakarta, menurut Mahkamah adalah pernyataan yang tidak dapat dibuktikan karena alat bukti yang diajukan Pihak Terkait berupa Buku Induk Siswa Sekolah Menengah Umum Tingkat Atas menunjukkan nilai Kelas 1 dan Kelas 2 siswa SMA Arjuna bernama Aries Sandi, namun tidak ada nilai selama belajar di Kelas 3,” jelas Hakim Konstitusi, Ridwan Mansyur.
Selain itu, MK meyakini Aries Sandi tidak pernah menyelesaikan pendidikan kelas 3 SMA, baik di SMA Arjuna maupun sekolah lainnya. MK juga tidak meyakini jika Aries Sandi Darma Putra telah mengikuti ujian persamaan tersebut, apalagi lulus dari ujian dimaksud.
“Telah terang dan jelas bahwa yang bersangkutan tidak pernah menyelesaikan pendidikan SLTA/SMA/sederajat. Sehingga secara materil Aries Sandi Darma Putra tidak berhak atas SKPI Paket/Kesetaraan karena secara materiil SKPI adalah surat pernyataan bahwa pemegang/pemilik SKPI adalah orang yang telah menyelesaikan pendidikan dan lulus ujian akhir pendidikan SLTA/SMA/sederajat,” ujarnya.
MK mengatakan surat pernyataan tanggung jawab mutlak (SPTJM) tidak relevan dijadikan dasar penerbitan SKPI. MK berpandangan SPTJM dalam penerbitan SKPI seharusnya diposisikan sebagai dokumen pendukung.
“Berdasarkan pertimbangan hukum sebagaimana diuraikan di atas, Mahkamah menilai penerbitan SKPI Paket/Kesetaraan bertanggal 19 Juli 2018 atas nama Aries Sandi Darma Putra adalah cacat hukum secara materil dan karenanya menurut Mahkamah dokumen tersebut tidak dapat dipergunakan sebagai pengganti ijazah SLTA/sederajat untuk memenuhi persyaratan sebagai pasangan calon Bupati Pesawaran dalam Pemilihan Bupati dan Wakil Bupati Pesawaran Tahun 2024,” tutur Ridwan.
(dai/dai)