Sabtu, April 5

Jakarta

Letusan gunung Tambora dahulu mengubah dunia. Pada tahun 1815, gunung berapi di Indonesia ini mengalami letusan paling dahsyat yang pernah tercatat dalam sejarah, mengirimkan gumpalan besar partikel kecil yang memantulkan sinar Matahari ke atmosfer, mendinginkan planet ini, dan membawa bencana.

Yang terjadi selanjutnya disebut tahun tanpa musim panas di mana suhu global anjlok, panen gagal, orang kelaparan, pandemi kolera, dan puluhan ribu orang meninggal. Beberapa orang bahkan menganggap gunung berapi itu menginspirasi Mary Shelley menulis Frankenstein, saat berlindung dari cuaca dingin tak biasa di Swiss tahun 1816.

Banyak gunung berapi meletus sejak saat itu, tapi Tambora tetap menjadi letusan besar terakhir di planet ini. Nah, lebih dari 200 tahun kemudian atau saat ini, ilmuwan memperingatkan dunia mungkin akan mengalami letusan dahsyat lain yang sejenis letusan Tambora, walau belum diketahui kapan dan di mana.


Menurut Markus Stoffel, profesor iklim di Universitas Jenewa, pertanyaannya bukan apakah, tapi kapan. Bukti geologis menunjukkan peluang 1 banding 6 terjadinya letusan besar abad ini. Kali ini, hal itu akan terjadi di dunia yang banyak berubah. Tak hanya lebih padat penduduk tapi juga menghangat akibat krisis iklim.

“Letusan besar berikutnya akan menyebabkan kekacauan iklim. Umat manusia tidak memiliki rencana apa pun,” katanya yang dikutip detikINET dari CNN. Sebagai catatan, Tambora menurunkan suhu global rata-rata setidaknya 1 derajat Celsius.

Memahami dampak letusan besar di masa lalu sangat penting, tapi letusan berikutnya akan terjadi di dunia yang jauh lebih hangat daripada sebelum manusia mulai membakar minyak, batu bara, dan gas dalam jumlah besar.

“Dunia sekarang lebih tidak stabil,” kata Michael Rampino, profesor di New York University. Menurutnya, dampak letusan mungkin lebih buruk dari yang terjadi tahun 1815.

Dunia lebih hangat mungkin berarti letusan gunung berapi besar memiliki dampak pendinginan lebih tinggi. Itu karena bagaimana partikel aerosol terbentuk dan bagaimana mereka diangkut semuanya bergantung iklim. Saat dunia menghangat, kecepatan sirkulasi udara di atmosfer meningkat.

Berarti partikel aerosol tersebar lebih cepat dan memiliki lebih sedikit waktu untuk tumbuh. Aerosol lebih kecil dapat menyebarkan sinar Matahari lebih efisien, yang berarti dampak pendinginan akan lebih besar.

Letusan gunung berapi besar tidak dapat dicegah, tapi ada cara untuk bersiap. Para ahli bisa menilai skenario terburuk dan membuat rencana, mulai dari evakuasi hingga upaya bantuan dan mengamankan persediaan makanan.

(fyk/ask)

Membagikan
Exit mobile version