Jumat, Januari 16

Jakarta

Manusia tidak beradaptasi dengan baik untuk hidup di kota-kota modern dan ini mungkin berdampak besar pada kesehatan dan kesejahteraan kita. Itu adalah riset ilmuwan evolusi dari Loughborough University, Inggris, dan University of Zurich, Swiss.

Menurut mereka, dikutip detikINET dari Newsweek, industrialisasi telah mengubah kebiasaan manusia secara dramatis sehingga biologi manusia mungkin tidak lagi dapat mengimbanginya.

Hidup di lingkungan tidak sesuai seperti kota-kota padat penduduk dan tercemar, bersamaan dengan keterputusan dari alam, dapat menimbulkan efek berantai pada fungsi biologis esensial yang membentuk kebugaran evolusioner.


Ini termasuk dampak reproduksi seperti infertilitas dan penurunan sperma dan efek pada sistem kekebalan tubuh seperti alergi dan penyakit autoimun. Hal ini juga dapat memengaruhi fungsi kognitif serta penurunan fungsi fisik seperti berkurangnya kekuatan dan daya tahan.

Dengan menurunnya tingkat kesuburan global dan meningkatnya penyakit kronis, ditambah perkiraan 68% populasi dunia diproyeksi tinggal di kota tahun 2050, implikasi dari temuan ini bisa sangat besar.

“Selama sebagian besar sejarah manusia, biologi kita dibentuk oleh lingkungan alami, tapi industrialisasi dengan cepat mengubah dunia di sekitar kita, lebih cepat daripada kemampuan tubuh kita untuk beradaptasi,” kata Danny Longman, dosen senior fisiologi evolusi manusia di Loughborough.

“Bukti yang muncul tentang gangguan fungsi biologis di lingkungan yang sekarang kita tinggali membuat kami mengusulkan Hipotesis Ketidaksesuaian Lingkungan (Environmental Mismatch Hypothesis), bahwa biologi kita yang beradaptasi dengan alam tidak selaras dengan lingkungan perkotaan modern,” paparnya.

Longman menjelaskan penelitian tersebut melibatkan studi laboratorium, lapangan, dan populasi, termasuk tentang efek fisiologis jangka pendek dari paparan terhadap lingkungan alami versus lingkungan industri.

“Sehari-hari, kebisingan kronis, kerumunan, lalu lintas, stimulasi digital berlebihan, dan akses terbatas ke ruang alami membuat sistem respons stres terus menyala. Ini meningkatkan kecemasan, memperburuk tidur, dan mengganggu konsentrasi. Seiring waktu, stresor konstan ini berkontribusi pada masalah kesehatan mental, ketegangan kardiovaskular, gangguan kognitif, disregulasi kekebalan, dan penurunan kesehatan reproduksi,” jelas Longman.

“Kami juga melihat bukti lingkungan tercemar, bising, dan ramai dapat mengurangi kinerja fisik, terutama dalam daya tahan. Dengan kata lain, bepergian melalui jalanan bising dan tercemar tak hanya tidak menyenangkan, stresor harian ini menumpuk dan memiliki konsekuensi biologis nyata,” sebutnya.

Longman mengakui bahwa kita tidak akan kembali ke habitat alami dalam waktu dekat dengan pertumbuhan populasi saat ini dan perluasan kota yang berkelanjutan. “Kehidupan perkotaan masa depan kita. Tantangannya adalah merancang kota yang bekerja selaras dengan biologi manusia, bukan melawannya,” tambahnya.

(fyk/fyk)

Share.
Exit mobile version