Sabtu, April 5


Jakarta

Kawasan Malioboro, Yogyakarta, yang biasanya ramai dikunjungi wisatawan saat libur Lebaran, tahun ini menyimpan cerita pilu bagi para kusir andong. Meski wisatawan membeludak, mereka justru mengeluhkan sepinya penumpang. Pendapatan mereka pun anjlok drastis dibandingkan tahun lalu.

Salah satunya Aan, warga Bantul yang menjadi penarik andong di kawasan Malioboro. Aan mengatakan banyak wisatawan yang datang ke Malioboro pada saat Lebaran. Namun, tak banyak yang menggunakan jasa andongnya.

“Sepi sih Lebaran tahun ini, sedikit aja saya nariknya. Beda dari Lebaran tahun kemarin itu cukup banyak bisa sampai lima orderan,” ujar Aan dikutip dari detikJogja, Rabu (2/4/2025).


Aan mengatakan hari ini dia baru mendapatkan dua pelanggan. Angka ini tak jauh berbeda dibanding hari-hari biasanya.

“Saya dari pagi jam 09.00 WIB sampai sekarang siang (jam 14.00 WIB) baru dapat dua orderan. Ini yang lainnya juga sama, banyak andong kan yang parkir, karena sama-sama sepi,” jelasnya.

“Kalau hari biasa paling cuma narik sekali dua kali, kadang juga nggak ada,” ujar Aan.

Senada dengan Aan, Tri Barjo, warga Kota Jogja juga mengeluh sepi orderan, Tri juga mengaku baru mendapat dua pelanggan yang menggunakan jasa andongnya.

“Sepi banget, meski banyak orang lalu lalang tapi nggak ada orderan. Ini baru dua kali saya hari ini,” ujar Tri.

Tri pun mengamini jika Lebaran tahun lalu dia panen cuan dari jasa andongnya. Namun, kali ini dia cukup kesulitan untuk mendapat pelanggan.

“Dibanding tahun lalu, jauh. Lebaran kemarin bisa sampai 15 kali. Kalau tahun ini paling mentok lima orang saja,” kata dia.

Adapun untuk harga yang dibanderol satu kali keliling Malioboro sebesar Rp 150 ribu. Sementara di hari-hari biasa hanya Rp 100 ribu. Meski begitu, baik Aan mau pun Tri tak berencana untuk menurunkan harga jasa andong angkutannya.

“Hari-hari biasa cuma Rp 100 ribu, kalau pas Lebaran Rp 150 ribu aja. Belum kepikiran buat nurunin harga, nanti dilihat dulu besok seperti apa,” tutur Aan.

“Ya tetap disyukuri aja, mungkin dua hari apa tiga hari udah balik normal (ke harga Rp 100 ribu),” ujar Tri.

Andong memang digunakan sebagai angkutan wisatawan di Yogyakarta. Pada tahun 2019 lalu andong Yogyakarta dinobatkan menjadi Warisan Budaya Tak Benda Indonesia oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Dalam beberapa tahun terakhir, terjadi pengurangan jumlah kusir andong di Malioboro, termasuk saat pandemi Covid-19. Pada waktu itu para kusir andong menjual kuda dan andongnya karena tidak mampu merawatnya.

Dari beberapa sumber disebutkan saat ini jumlah andong yang aktif di Malioboro sekitar 387 andong sedangkan jumlah kusir andong di DIY sendiri mencapai 421 kusir andong.

—–

Artikel ini telah tayang di detikJogja.

(upd/upd)

Membagikan
Exit mobile version