Jumat, April 4


Jakarta

Seorang warga negara (WN) Bulgaria ditangkap polisi setelah membuat keributan saat malam pengerupukan atau sehari sebelum Hari Raya Nyepi Jumat (29/3/2025). Bule yang belum diketahui identitasnya itu saat bikin onar diketahui dalam keadaan mabuk.

“Sudah diamankan Polres Badung,” kata Kabid Humas Polda Bali, Kombes Ariasandy, dihubungi detikBali, Sabtu (29/3/2025).

Ulah bule tersebut direkam oleh seseorang dan beredar di media sosial. Berdasarkan narasi di media sosial, insiden itu terjadi di dekat Pura Desa Puseh, Desa Tumbak Bayu, Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung.


Belum diketahui identitas bule Bulgaria itu. Terlihat sosok bule berperawakan sedang, berkepala plontos, jenggot tipis, memakai baju hitam, dan bercelana pendek warna putih.

Dalam unggahan itu, ada senjata tajam berupa pisau lipat milik pelaku yang diperlihatkan oleh salah satu pecalang. Bule Bulgaria itu juga sempat cekcok dengan pecalang dengan berbicara bahasa asing.

“Siapa namamu,” kata salah seorang pecalang menanyai bule itu dalam Bahasa Inggris.

Ariasandy mengatakan bule Bulgaria itu sudah ditangkap pukul 03.45 Wita. Namun, diungkapkan kronologi serta motif bule tersebut.

Apa itu malam pengerupukan jelang Nyepi?

Pengerupukan adalah salah satu tahapan pelaksanaan Hari Suci Nyepi yang memiliki makna mengusir Bhuta Kala dari lingkungan rumah, perkarangan, dan lingkungan sekitar. Bhuta Kala adalah wujud manifestasi sifat buruk bagi umat Hindu Nusantara dari lingkungan sekitar.

Sebelum pengarakan ogoh-ogoh, rangkaian pengerupukan diawali dengan upacara Tawur Agung Kesanga. Sementara itu, pengarakan ogoh-ogoh digelar pada sore atau sandhyakala hingga malam hari setelah melaksanakan upacara Mecaru di tempat tinggal.

Pelaksanaan pengerupukan ditandai dengan diaraknya ogoh-ogoh atau patung yang menggambarkan kepribadian dan sosok Bhuta Kala. Umumnya, ogoh-ogoh divisualisasikan bertubuh besar, kuku panjang, dan berwajah seram.

Pada pelaksanaan pengerupukan, ogoh-ogoh akan mengelilingi desa adat dan diiringi oleh obor serta gamelan. Umumnya, peserta yang melaksanakan pengerupukan adalah para pemuda-pemudi dari setiap Sekaa Teruna Teruni (STT) di masing-masing banjar adat.

Setelah diarak mengelilingi desa, ogoh-ogoh tersebut kemudian dibakar. Pembakaran ogoh-ogoh dimaknai sebagai upaya memusnahkan kejahatan yang disimbolkan dengan Bhuta Kala di bumi. Keesokan harinya, masyarakat Bali merayakan Tahun Baru Caka atau Hari Raya Nyepi dengan keheningan dan melaksanakan Catur Brata Penyepian.

Dilansir dari laman resmi Desa Sangeh, Kabupaten Badung, ogoh-ogoh baru meluas sebagai rangkaian Nyepi di Bali sejak 1980-an. Sejak saat itu, masyarakat di Denpasar mulai membuat ogoh-ogoh. Budaya baru ini juga semakin meluas saat ogoh-ogoh diikutkan dalam Pesta Kesenian Bali XII.

Awalnya, ogoh-ogoh hanya terbuat dari kerangka kayu dan bambu yang kemudian dibungkus dengan kertas-kertas. Namun, seiring dengan meningkatkan kreativitas dan berkembangnya zaman, masyarakat Bali mulai membuat ogoh-ogoh dari kerangka besi dan bambu yang dianyam serta dibungkus styrofoam.

Saat ini, pengerupukan jadi salah satu daya tarik bagi para wisatawan yang mengunjungi Bali. Maka dari itu, tidak heran bila pengarakan ogoh-ogoh dihadiri oleh banyak orang.

Baca artikel selengkapnya di detikBali

(msl/msl)

Membagikan
Exit mobile version