Jumat, April 4


Jakarta

Gempa bumi dahsyat di Myanmar telah menewaskan lebih dari 1.600 orang dan mungkin akan terus bertambah. Penduduk di beberapa daerah mengatakan bahwa mereka terpaksa menggali reruntuhan untuk mencari korban yang masih hidup dengan tangan kosong.

Mengutip BBC, Minggu (30/3/2025), gempa tersebut telah meratakan sebagian besar wilayah Mandalay, ibu kota kuno dan kota terbesar kedua yang dihuni oleh sekitar 1,5 juta orang. Kurangnya peralatan, jaringan komunikasi yang tidak merata, serta jalan dan jembatan yang rusak telah menghambat pencarian.

Pemerintah militer Myanmar atau junta, yang mengambil alih kekuasaan pada tahun 2021, juga tidak lagi menguasai sebagian besar wilayah negara tersebut. Karena terdapat perang saudara selama empat tahun melawan kelompok pemberontak dan perlawanan anti-kudeta.


Upaya penyelamatan telah dilakukan sejak hari Jumat dan bantuan internasional telah mulai masuk ke negara itu. Namun, bantuan belum mencapai daerah-daerah yang paling parah terkena dampak dan orang-orang biasa telah mencoba menggali para penyintas dengan tangan kosong.

Rekaman yang tersebar luas menunjukkan dua orang pria sedang memindahkan reruntuhan untuk mengeluarkan seorang wanita muda yang terjebak di antara dua lempengan beton.

Penduduk setempat yang mengatakan bahwa orang-orang berteriak minta tolong dari bawah reruntuhan. Tim penyelamat juga menarik seorang wanita hidup-hidup dari reruntuhan blok apartemen 12 lantai di Mandalay sekitar 30 jam setelah runtuh.

Palang Merah mengatakan lebih dari 90 orang mungkin masih terjebak di sana.

Di kota terdekat, pihak berwenang menemukan mayat 12 anak prasekolah dan seorang guru di bawah sebuah bangunan yang digunakan sebagai taman kanak-kanak.

“Keretakan dan distorsi permukaan pada jalan raya utama antara kota terbesar Yangon, ibu kota Nay Pyi Taw dan Mandalay telah menyebabkan gangguan transportasi yang parah,” kata badan kemanusiaan PBB, OCHA.

“Ada juga kekurangan pasokan medis termasuk peralatan trauma, kantong darah, anestesi, obat-obatan esensial dan tenda untuk petugas kesehatan,” katanya.

(msl/fem)

Membagikan
Exit mobile version