Jumat, Maret 28


Jakarta

Kementerian Kesehatan (Kemenkes RI) melaporkan bahwa Indonesia termasuk negara dengan kasus dan kematian akibat tuberkulosis (TB/TBC) tertinggi di dunia. Pada 2024, Kemenkes memperkirakan terdapat sekitar 1.090.000 kasus TB di Indonesia dengan 125.000 kematian.

Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Kementerian Kesehatan RI, dr Ina Agustina Isturini, MKM mengatakan Pulau Jawa menjadi wilayah dengan kasus TB terbanyak di Indonesia.

“Ada sekitar tujuh provinsi yang angka TB-nya sangat tinggi. Kalau yang cokelat tua (tertinggi) ini ada di Jawa, kecuali DIY (Daerah Istimewa Yogyakarta), kemudian di Sumatera Utara dan Sulawesi Selatan,” kata dr Ina dalam temu media daring Hari Tuberkulosis Sedunia, Senin (24/3/2025).

Di wilayah-wilayah tersebut, dr Ina mengatakan bahwa Kemenkes memperkirakan ada sekitar 40 ribu hingga 230 ribu kasus TB.

“Data sampai awal bulan Maret 2025, kami sudah menemukan kasus sekitar 81 persen, atau 889.133 kasus,” kata dr Ina.

“Kalau kita lihat setiap tahunnya ada peningkatan upaya penemuan-penemuan kasus. Lalu untuk kasus yang diobati juga mengalami peningkatan, sampai tahun ini sudah 90 persen (802.228 kasus),” sambungnya.

Kasus TB sendiri saat ini masih menjadi fokus pemerintah dalam hal ini Kemenkes. Di sisi lain, terdapat tantangan atau hambatan yang menghalangi upaya Kemenkes dalam menekan angka kasus TB di Indonesia.

“Adanya under dan delay reporting, jadi kasusnya ada, pasiennya ada tapi tidak terlaporkan. Kalaupun terlaporkan itu tertunda satu sampai enam bulan,” kata dr Ina.

“Lalu terlambat atau tidak terdiagnosis, ini bisa karena pengetahuan nakes-nya atau dalam mengakses alat diagnostiknya. Serta investigasi kontak belum optimal, ini membutuhkan peran dari puskesmas dan kader-kader,” tutupnya.

(dpy/suc)

Membagikan
Exit mobile version