Kamis, September 26


Jakarta

Permintaan mobil listrik di Indonesia terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Itulah mengapa, selain kendaraan, baterainya juga mulai diproduksi di dalam negeri. Lantas, apakah Toyota berencana mengadopsi strategi yang sama?

Toyota merupakan salah satu pabrikan yang sangat berhati-hati di pasar kendaraan listrik. Kini, mereka baru punya satu produk di segmen tersebut dengan status impor utuh atau completely built up (CBU) dari Jepang, yakni Toyota bZ4X.

Pesaing mereka dari China dan Korea Selatan sudah melakukan gebrakan lebih awal. Hyundai sudah punya pabrik baterai dengan kapasitas produksi 250 ribu unit setahun. Mereka secara akumulatif menanam investasi 11 miliar USD atau Rp 160 triliunan untuk pembangunan pabrik tersebut.


Pabrik baterai mobil listrik Hyundai. Foto: Luthfi Anshori/detikOto

Selain Hyundai, pabrik baterai Wuling juga mulai beroperasi di Indonesia mulai akhir 2024. Baterai tersebut bernama MAGIC dan akan digunakan di tiga produk andalan mereka, yakni Wuling Air ev, BinguoEV dan Cloud EV.

Bukan hanya Wuling, merek China lain seperti MG Motors juga menyatakan niatnya membuat baterai sendiri di Indonesia. Namun, niat tersebut belum direalisasikan dalam bentuk investasi.

Lantas, bagaimana dengan Toyota sebagai market leader di Indonesia? Adakah rencana mereka mengikuti jejak produsen asal China dan Korea Selatan?

Marketing Planning Deputy General Manager PT Toyota Astra Motor (TAM) Resha Kusuma Atmaja Foto: Doc. TAM

Marketing Planning Deputy General Manager PT Toyota Astra Motor (TAM) Resha Kusuma Atmaja mengaku belum bisa mengungkap rencana elektrifikasinya di Indonesia. Namun, yang jelas, pihaknya akan terus melakukan studi.

“Nah, itu (pembangunan pabrik baterai) belum bisa saya disclose, pastinya kita akan studi untuk segala lini stakeholder,” ujar Resha saat ditemui awak media selepas acara Green Initiative Conference di Jakarta Pusat.

Resha menegaskan, pihaknya saat ini masih fokus mengembangkan mobil hybrid di Indonesia. Sebab, berdasarkan demand structure, mobil listrik hanya menjadi mobil tambahan atau additional car. Sementara untuk meningkatkan pasar butuh menyasar segmen first buyer.

“First buyer rata-rata dipakai untuk main car. Sebagai mobil utama berarti masyarakat harus percaya dulu soal infrastruktur pada saat mereka menggunakan kendaraan itu, harus aman dan tenang. Paling pas saat ini adalah mobil hybrid,” kata dia.

(sfn/dry)

Membagikan
Exit mobile version