Minggu, April 6


Jakarta

Libur Lebaran yang biasanya menjadi momen panen bagi sektor perhotelan, tahun ini justru berbuah pahit. Okupansi hotel di berbagai kota besar seperti Solo, Yogyakarta, dan Bali mengalami penurunan drastis, mencapai 20%. Daya beli masyarakat yang lesu diduga menjadi penyebab utama.

Ketua Umum Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI), Hariyadi Sukamdani, mengungkapkan bahwa tingkat keterisian kamar hotel di berbagai daerah selama libur Lebaran 2025 mengalami penurunan yang cukup signifikan dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu, yakni mencapai 20%.

“Seperti diduga, lebih rendah dari tahun lalu ya. Tadi saya sempat telepon beberapa daerah. Solo, Jogja, Bali, itu yang saya sempat cek ya, memang turun. Turun rata-rata sekitar 20 persen,” kata Hariyadi dikutip dari detikFinance, Rabu (2/4/2025).


Menurut Hariyadi, libur Lebaran biasanya menjadi momen puncak (peak season) bagi sektor perhotelan, terutama di luar Jakarta. Di luar periode tersebut, tingkat okupasi hotel umumnya lebih rendah.

Sebagai contoh, di Yogyakarta, tingkat okupasi hotel pada hari biasa hanya sekitar 40%, namun saat libur Lebaran, angka tersebut seharusnya bisa meningkat hingga 85%.

“Kalau libur lebaran ini dan dia booster sebetulnya. Karena orang sudah pakai THR kan, nah kalau bulan biasa itu kemungkinan lebih jelek lagi,” dia menambahkan.

Selain penurunan tingkat okupasi, Hariyadi juga mencatat adanya penurunan durasi menginap masyarakat di hotel. Hal ini terlihat dari kebiasaan reservasi yang tidak berlangsung hingga akhir libur Lebaran.

“Waktu liburnya juga nggak sampai selesai, nggak sampai tanggal 7 (April) gitu ya, tapi kayak di Solo tanggal 4 sampai 5 langsung sudah check out, di Yogyakarta tanggal 6, Bali itu juga menurun juga ya. Bali itu juga nggak full sampai tanggal 7, jadi secara umum sih turun, secara nasional,” paparnya.

Hariyadi berpendapat bahwa penurunan signifikan dalam sektor perhotelan kali ini disebabkan oleh menurunnya daya beli masyarakat. Banyak orang yang pulang kampung memilih untuk tidak menginap di hotel atau memperpendek durasi liburan mereka untuk menghemat pengeluaran.

“Mungkin daya beli ya. Daya belinya memang kayaknya sih bermasalah,” kata Hariyadi.

***

Artikel ini sudah lebih dulu tayang di detikFinance. Selengkapnya klik di sini.

(upd/fem)

Membagikan
Exit mobile version