Jumat, November 15


Jakarta

Bhabinkamtibmas Brigadir Mustofa Wahyu Hadi berharap solusi untuk masalah pupuk petani di Desa Mojokumpul, Mojokerto, Jawa Timur (Jatim), semakin variatif setelah dirinya mengenalkan pembuatan pupuk Photo Sintesis Bakteri (PSB). Dia juga ingin ada semacam laboratorium mini pertanian di tingkat desa.

“Harapannya tentu bisa dikembangkan lebih variatif lagi, artinya pupuk-pupuk organik ini lebih banyak macamnya. Terus kemudian dari leading sector terkait di bidang pertanian bisa memfasilitasi, artinya masyarakat ini membuat semacam laboratorium mini (pertanian) di tingkat desa maupun di tingkat kecamatan,” kata Mustofa dalam program Hoegeng Corner di detikPagi, Kamis (14/11/2024).

Mustofa menekankan mengenai pentingnya pengujian setiap pupuk organik yang akan digunakan masyarakat. Dengan demikian, penggunaan pupuk organik itu lebih tepat sasaran.


“Terkait dengan pembuatan laboratorium pertanian kecil, ya artinya untuk sebelum diterjunkan kepada masyarakat. Apa pun jenis pupuknya itu diuji terlebih dahulu sehingga pilihan perekonomiannya lebih tepat,” imbuh dia.

Selain itu, dia juga siap turut menyukseskan program ketahanan pangan Presiden Prabowo Subianto. Mustofa mengatakan siap memaksimalkan lahan yang ada di wilayahnya untuk mendukung program Asta Cita Prabowo.

“Jadi ketahanan pangan, menurut saya, dalam kondisi era sekarang yang menjadi masuk Asta Cita Pak Presiden sangat positif. Karena juga selain memaksimalkan kondisi-kondisi di kewilayahan juga terkait dengan kegiatan-kegiatan masyarakat juga biar lebih positif,” tutur Mustofa.

Mustofa juga menceritakan awal mula dirinya meyakinkan warga Desa Mojokumpul untuk menggunakan pupuk Photo Sintesis Bakteri (PSB). Pupuk organik buatan Brigadir Mustofa itu menjadi solusi bagi para petani yang terkendala kenaikan harga pupuk nonsubsidi dan adanya pembatasan jenis pupuk subsidi.

“Awal mulanya terkait dengan sosialisasi ini ada yang ragu, karena mungkin ilmu baru, pengalaman baru, terus kita juga sebagai petugas nggak semata-mata pesimis,” kata Mustofa.

Mustofa mengajak masyarakat melihat langsung hasil pupuk PSB. Dia juga meminta masyarakat mempertimbangkan tenaga dan biaya yang dikeluarkan jika menggunakan pupuk PSB atau pupuk kimia.

“Kita hadirkan di masyarakat sehingga pada saat itu juga bisa survei sendiri sebelum mengaplikasikan, kami ajak, ‘Ini loh, Pak, hasilnya, sebelumnya pakai PSB yang ini pakai kimia, silakan tanya-tanya sendiri’,” ujar Mustofa.

“Inilah celah-celah yang bisa kita pergunakan. Kalaupun Bapak membeli pupuk dengan cara konvensional tebus maupun kimia yang nonsubsidi, biayanya sekian, perbandingannya bisa dilihat. Kalau PSB kita membuatnya secara mandiri perbandingannya 70 persen PSB, 30 persen kimia. Kalau full kimia, bisa dihitung biasanya Bapak satu bulan habis berapa, ini dari yang disampaikan,” sambung dia.

Atas inisiatif dan inovasinya menciptakan pupuk PSB untuk membantu petani, Mustofa diusulkan oleh Polda Jawa Timur (Jatim) dalam program Hoegeng Corner. Dia menjelaskan kemampuannya membuat pupuk organik didapat karena sejak kecil membantu orang tuanya bertani.

“Saya berlatar belakang orang tua petani sekaligus perajin kesenian ukir. Jadi, kalau pengalaman (bertani), dari pribadi alhamdulillah ada,” ujar Mustofa dalam wawancara dengan detikcom di kesempatan sebelumnya.

Mustofa menuturkan kini sekitar 55 petani di desanya menggunakan pupuk PSB untuk menunjang proses pemupukan padi. “Ada sekitar kurang lebih 55 petani aktif,” sambung dia.

Mustofa menuturkan, agar inovasi pupuk PSB dapat diterima petani, sejak awal dirinya menggandeng akademisi pertanian dan PPL Dinas Pertanian Kabupaten Mojokerto. Dia berharap pupuk buatannya bisa mengurangi ketergantungan petani pada pupuk kimia.

“Untuk bersama menyatukan prinsip membuat dan memformulasikan pupuk organik yang ramah lingkungan dengan cara pembuatan mudah, murah, cepat dan simple dalam pengaplikasiaannya, sehingga dapat mengurangi ketergantungan para petani Desa Mojokumpul terhadap pupuk kimia serta sebagai sarana penunjang untuk pemupukan kebutuhan tani,” ucap Mustofa.

Mustofa lalu menjelaskan mengenai pupuk PSB yang berbahan dasar bakteri autotroph. Bakteri tersebut, lanjutnya, bisa berfotosintesis sendiri.

“PSB punya pigmen Bakteriofil A atau B yang bisa memproduksi pigmen warna merah, hijau, hingga ungu untuk menangkap energi matahari yang digunakan sebagai bahan bakar fotosintesis. Bakteri fotosintetik memiliki vakuola berisi enzim untuk menambat CO2 bebas yang disebut Rubisco atau ribulosa bipospat karboksilase,” jelas Mustofa.

Dia melanjutkan, enzim tersebut bertugas untuk mempermudah Ribulosa Bi Pospat atau RuBP dalam menangkap karbon dioksida bebas yang ada di udara dan kemudian mengubahnya menjadi senyawa organik. Mustofa mengumpamakan seperti halnya tumbuhan, maka bakteri fotosintetik juga melakukan reaksi penyusunan senyawa organik dari karbondioksida dengan memanfaatkan energi dari cahaya.

“Reaksinya akan dimulai dari reaksi terang yang melibatkan penangkapan energi cahaya menggunakan pigmen khusus yang kemudian prosesnya akan berlanjut pada penyusunan senyawa organik dari karbon dioksida,” ujar dia.

(knv/aud)

Membagikan
Exit mobile version