Sabtu, Juli 4

Masyarakat awam bisa ikut memantau pergerakan sampah antariksa yang akan jatuh ke Bumi, termasuk satelit Kosmos 482 ini. Pemantauan salah satunya bisa dilihat di situs N2YO.com.

Tinggal ketikkan benda yang ingin kita ketahui pergerakannya, dalam hal ini ‘Kosmos 482’ atau ‘Cosmos 482’ dalam bahasa Inggris di kolom pencarian, dan halaman tersebut akan menampilkan posisi terkini objek yang dicari.

“(Hasil pencarian) real time. Mengorbit Bumi sekali dalam 1,5 jam,” kata Profesor Djamal.

Pemantauan posisi satelit Kosmos 482 menggunakan situs radar N2YO. Foto: undefined

Halaman pelacakan tersebut menampilkan posisi terkini satelit Kosmos 482 secara detail, berdasarkan koordinat longitude dan latitude, catatan waktu universal (Coordinated Universal Time/UTC) dan waktu setempat, tingkat elevasi, kecepatan, dan lain-lain.

Indonesia Pernah Dua Kali Ketiban Sampah Antariksa Milik Soviet

Sejauh ini, ada enam kali insiden sampah luar angkasa yang jatuh di Indonesia. Dua di antaranya merupakan sampah antariksa milik Soviet. Berikut ini rangkumannya:

  • 1981 di Gorontalo, tabung bahan bakar roket milik Soviet
  • 1988 di Lampung, tabung bahan bakar roket milik Soviet
  • 2003 di Bengkulu, pecahan tabung roket milik China
  • 2016 di Sumenep, Jawa Timur, tabung bahan bakar milik Amerika Serikat
  • 2017 di Agam, Sumatra Barat, dua keping tabung roket dan pecahan roket milik China
  • 2022 di Sanggau, Kalimantan Barat, pecahan roket milik China.

Sampai saat ini, kata Profesor Djamal, belum ada mekanisme yang dapat dilakukan manusia untuk mencegah jatuhnya sampah antariksa ke Bumi dan meminimalkan dampaknya. Sampah antariksa pun tidak bisa diprakirakan titik jatuhnya di mana.

“Hanya bisa dipantau, tapi pemantauan itu hanya untuk mengidentifikasi itu milik siapa kalau sudah jatuh. Jadi untuk mengantisipasi jatuhnya itu tidak memungkinkan,” ujarnya.

Dia mencontohkan, sampah antariksa berupa pecahan tabung roket milik China yang jatuh di Bengkulu pada 2003, sebelumnya diprakirakan jatuh di Jazirah Arab. Kejadian jatuhnya tabung bahan bakar milik AS di Sumenep, Jawa Timur di 2016 pun, awalnya diprakirakan jatuh di Lautan Hindia.

“Jadi memang tidak bisa diprakirakan. Paling jalurnya saja yang perlu diwaspadai. Jadi biasanya (para peneliti astronomi di BRIN) kalau ada sampah antariksa yang akan jatuh akan mengidentifikasi milik siapa, ada potensi bahaya atau tidak,” rincinya.

Menurutnya, sepanjang perkembangan teknologi antariksa, belum ada laporan kejadian yang membahayakan orang atau barang yang terkena benda jatuh dari luar angkasa.

“Hanya bisa dipantau, tapi pemantauan itu hanya untuk mengidentifikasi itu milik siapa kalau sudah jatuh. Jadi untuk mengantisipasi jatuhnya itu tidak memungkinkan,” ujarnya.

Dia mencontohkan, sampah antariksa berupa pecahan tabung roket milik China yang jatuh di Bengkulu pada 2003, sebelumnya diprakirakan jatuh di Jazirah Arab. Kejadian jatuhnya tabung bahan bakar milik AS di Sumenep, Jawa Timur di 2016 pun, awalnya diprakirakan jatuh di Lautan Hindia.

“Jadi memang tidak bisa diprakirakan. Paling jalurnya saja yang perlu diwaspadai. Jadi biasanya (para peneliti astronomi di BRIN) kalau ada sampah antariksa yang akan jatuh akan mengidentifikasi milik siapa, ada potensi bahaya atau tidak,” rincinya.

Menurutnya, sepanjang perkembangan teknologi antariksa, belum ada laporan kejadian yang membahayakan orang atau barang yang terkena benda jatuh dari luar angkasa.

Share.
Exit mobile version